Abstraksi Makalah ini berusaha mengemukakan pemahaman penulis mengenai hakikat kebenaran eksplanasi ilmiah berdasarkan prinsip falsifikasi Karl Popper. Makalah ini berusaha menganalisa dan membagi eksplanasi ilmiah, antara teori dan dogma. Makalah ini juga memaparkan beberapa contoh bagaimana teori ilmiah berubah menjadi dogma ilmiah.

Kata Kunci: Filsafat Ilmu, Kebenaran Temporal, Falsifikasi

Okasha (2002) dalam bukunya “Philosophy of Science” mengemukakan bahwa salah satu tujuan ilmu pengetahuan adalah untuk memberikan eksplanasi terhadap hal-hal yang terjadi di sekeliling kita. Salah satu topik sentral dalam filsafat ilmu adalah pembahasan mengenai bagaimana metoda pembuktian atas sebuah eksplanasi ilmiah terhadap suatu fenomena pada berbagai bidang ilmu yang ada. Sementara itu, metoda pembuktian dapat didefinisikan sebagai cara justifikasi kebenaran suatu eksplanasi ilmiah atau context of justification. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa hakikat kebenaran suatu eksplanasi ilmiah sangat terkait dengan metode pembuktian yang digunakan atas eksplanasi tersebut.

Falsifikasi Popper sebagai Context of Justification Perkembangan mainstream filsafat ilmu modern saat ini sangat dipengaruhi oleh perdebatan pemikiran yang dimulai pada pertengahan tahun 1960-an antara Thomas S. Kuhn melawan Karl Popper. Fuller (2003) dalam bukunya yang membandingkan pemikiran Kuhn dan Popper, berpendapat bahwa Kuhn dengan pemikirannya mengenai “paradigma ilmu” yang menekankan pada perlunya suatu revolusi ilmiah dalam menggeser suatu paradigma ilmu yang dominan, dipandang mewakili kekuatan authoritarianism dalam komunitas ilmiah. Sementara itu, Popper dengan pemikirannya mengenai “falibilitas ilmu”, menekankan bagaimana falsifikasi atas suatu teori dapat mengugurkan teori tersebut dipandang mewakili kekuatan libertarianism. Walaupun bisa dikatakan bahwa pada akhirnya pemikiran Kuhn menjadi pemikiran yang dominan, hingga kini pemikiran Popper tetap memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam pembuktian eksplanasi ilmiah. Falsifikasi tetap menjadi dasar context of justification yang dominan pada mayoritas bidang ilmu, alam maupun sosial. Popper dalam bukunya Logik der Forschung (The Logics of Science) berpendapat bahwa kebenaran suatu eksplanasi ilmiah tidak dibuktikan dengan proses verifikasi secara induktif. Sebaliknya, kebenaran suatu eksplanasi ilmiah dibuktikan dengan logika deduksi melalui usaha falsifikasi. Falsifikasi menurut Popper adalah upaya untuk membuktikan bahwa kebenaran teori yang bersangkutan tidak benar. Jika suatu teori tidak dapat dibuktikan salah, maka teori tersebut masih dapat diterima sementara jika teori tersebut dapat dibuktikan salah, maka teori tersebut akan ditinggalkan. Disini, falsifikasi menjadi context of justification atas teori ilmiah tersebut.

Logika Temporalitas Kebenaran Hasil Falsifikasi Dengan memegang falsifikasi sebagai context of justification suatu eksplanasi ilmiah, marilah kita lihat logika dibalik pembuktian menggunakan falsifikasi. Ketika sebuah eksplanasi diuji menggunakan falsifikasi, peneliti berusaha menemukan fakta realitas yang dapat membantah eksplanasi tersebut. Jika peneliti gagal menemukan bukti yang menyangkal eksplanasi tersebut, maka dapat dikatakan bahwa eksplanasi tersebut lolos dari falsifikasi. Sementara itu, jika peneliti menemukan satu kasus yang dapat membuktikan bahwa eksplanasi tersebut salah maka eksplanasi tersebut terfalsifikasi dan gugur. Walaupun begitu, falsifikasi bukan verifikasi. Eksplanasi yang berhasil lolos falsifikasi bukan berarti eksplanasi tersebut pasti benar. Eksplanasi yang lolos dari falsifikasi hanya berarti bahwa eksplanasi tersebut belum dapat dibuktikan salah. Oleh karena itu, walaupun teori yang gagal difalsifikasi dapat diterima sebagai kebenaran, namun sifat kebenaran hasil falsifikasi tersebut belum menjadi kebenaran absolut. Sebaliknya, kebenaran hasil falsifikasi tersebut hanya sebatas kebenaran temporal. Istilah temporal disini berarti memiliki keterikatan terhadap waktu. Percival (1989) memberikan contoh kebenaran temporal, ketika seseorang mengeluarkan pernyataan “diluar hujan” maka kebenaran pernyataan tersebut sangat tergantung pada konteks waktu dan tempat pernyataan itu dibuat. Jika ternyata setelah kita lihat keluar, saat itu memang sedang hujan, maka pernyataan tersebut bisa dikatakan memang benar. Namun, jika beberapa jam kemudian pernyataan “diluar hujan” diulang kembali, belum tentu pernyataan tersebut tetap benar. Jika ternyata diluar hujan sudah reda, maka pernyataan tersebut menjadi salah. Jika dikaitkan dengan konteks hasil falsifikasi eksplanasi ilmiah, bisa jadi sebuah eksplanasi yang lolos dari satu kali falsifikasi gagal pada falsifikasi yang kedua. Walaupun eksplanasi tersebut lolos dari falsifikasi yang kedua, tidak ada yang bisa menjamin bahwa eksplanasi tersebut pasti akan dapat lolos falsifikasi yang ketiga, dan seterusnya. Pada kenyataannya, sebanyak apapun sebuah eksplanasi lolos dari falsifikasi tidak ada yang menjamin bahwa eksplanasi tersebut pasti berhasil pada falsifikasi berikutnya. Oleh karena itulah semua pembuktian eksplanasi ilmiah menggunakan falsifikasi hanya menghasilkan kebenaran temporal. Untuk memperjelas pemahaman mengenai istilah “kebenaran temporal”, maka perlu dibahas mengenai lawan dari kebenaran temporal yakni “kebenaran absolut”. Kebenaran absolut merupakan kebenaran yang tidak tergantung oleh waktu dan tempat tertentu. Kebenaran absolut berlaku kapan saja dan dimana saja. Walaupun begitu, membuktikan kebenaran absolut tidak semudah membuktikan kebenaran temporal. Sebagai contoh, pernyataan “semua manusia pasti mati” seringkali dipandang sebagai pernyataan yang memiliki kebenaran absolut. Namun, pembuktian pernyataan tersebut tidak semudah dan sesederhana yang dikira. Bisa dikatakan bahwa setiap kali seseorang meninggal, setiap kali itu pula pernyataan tersebut lolos falsifikasi. Bisa dibayangkan berapa milyar kali pernyataan tersebut lolos dari falsifikasi. Namun, kematian seorang manusia hanyalah merupakan verifikasi temporal berdasarkan induksi. Untuk membuktikan pernyataan tersebut benar secara absolut, maka setiap manusia yang pernah hidup dimuka bumi harus mati terlebih dahulu. Popper sendiri menyangkal absolutisme kebenaran eksplanasi ilmiah “We do not know: we can only guess.” (Popper, Logic of Scientific Discovery, p. 278). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa menurut Popper ilmu pengetahuan merupakan sekumpulan teori yang belum dapat difalsifikasi. Berdasar pemikiran Popper tersebut, kebenaran semua ilmu pengetahuan yang kita miliki saat ini bersifat provisional dan masih dapat dikoreksi dimasa depan.

Membedakan Eksplanasi Ilmiah Pada kenyataannya, temporalitas kebenaran suatu eksplanasi ilmiah tidak membuat eksplanasi tersebut salah. Sebaliknya, eksplanasi tersebut dapat diterima sebagai kebenaran. Hanya saja, perlu ditanamkan pemahaman bahwa kebenaran eksplanasi ilmiah tersebut terbatas oleh konteks waktu dan tempat usaha falsifikasi terhadap eksplanasi tersebut. Namun demikian, beberapa eksplanasi ilmiah dianggap sebagai suatu kebenaran absolut, baik dapat difalsifikasi atau tidak. Popper memberikan contoh beberapa eksplanasi ilmiah yang tidak dapat difalsifikasi, seperti Psikoanalisa Freud dan Sosialisme Marx. Popper memandang kedua eksplanasi tersebut sebagai pseudo-science karena eksplanasi tersebut dapat digunakan oleh pengikutnya untuk menjelaskan apapun hasil dari suatu fenomena. Dalam hal ini, kedua teori diatas diterima oleh penganutnya sebagai kebenaran tanpa memerlukan adanya falsifikasi. Dengan kata lain, eksplanasi ilmiah tersebut diyakini sebagaimana seorang penganut agama diharapkan meyakini kepercayaannya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa dogma ilmiah merupakan eksplanasi ilmiah yang diyakini benar oleh sekelompok ilmuwan tanpa melewati context of justification yang diakui. Pada kenyataannya, banyak sekali eksplanasi yang bermula sebagai suatu teori ilmiah, namun berakhir sebagai dogma ilmiah. Selain contoh Psikoanalisa dan Sosialisme, contoh lain yang dapat diambil adalah teori Adam Smith mengenai Invisible Hand. Teori Adam Smith ini melahirkan mazhab klasik dan paham liberalisme. Penganut mazhab klasik akan meyakini prinsip-prinsip ekonomi yang diturunkan dari teori Smith, meskipun banyak fenomena terkini yang membuktikan bahwa teori tersebut salah. Jikapun mereka mengakui adanya fenomena yang bertolak belakang dengan eksplanasi Adam Smith, mereka akan berusaha mencari provisi-provisi tambahan yang memungkinkan teori Adam Smith berkelit dari falsifikasi. Pada akhirnya, semua provisi tersebut dapat menyebabkan teori Adam Smith sama seperti teori Karl Marx yang tidak dapat lagi difalsifikasi. Sungguh ironis bahwa eksplanasi Adam Smith dan Karl Marx terhadap fenomena ekonomi memiliki nasib yang serupa sebagai dogma ilmiah, walaupun memiliki isi yang bertolak belakang. Selain Psikoanalisa, contoh lain teori yang berubah menjadi dogma ilmiah pada ilmu psikologi adalah Teori Test Klasik yang merupakan salah satu dasar ilmu psikometri. Teori Test Klasik menyatakan bahwa X=T+e; dimana X merupakan nilai hasil pengukuran, T merupakan True Score atau nilai objek terukur yang sesungguhnya, sementara e merupakan merupakan error baik acak maupun sistematis. Pada kenyataannya, teori tersebut tidak dapat dibuktikan benar atau salah karena nilai true score dan error yang sesuangguhnya tidak dapat diketahui dan hasil pengukuran psikologi macam apapun dapat membenarkan teori tersebut. Teori-teori diatas tidak lagi dapat difalsifikasi sebagaimana dahulu karena masing-masing teori sudah mendapatkan kelembaman masing-masing yang diakibatkan oleh banyaknya aplikasi dan pemikiran yang didasarkan pada masing-masing teori diatas. Sebagai akibatnya, jika pada suatu waktu ditemukan bukti yang memfalsifikasi teori tersebut, sehingga para ilmuwan dan non-ilmuwan yang memiliki kepentingan atas keberlanjutan teori itu merasa enggan dan tidak lagi menghiraukan bukti-bukti falsifikasi teori tersebut. Jika kita kembali ke pemikiran Kuhn VS Popper, hal diatas sejalan dengan “Paradigma Ilmiah” Kuhn, dimana revolusi ilmiah terjadi ketika dominasi ilmuwan generasi sebelumnya yang memiliki lebih banyak kepentingan terhadap satu paradigma ilmu yang berlaku digantikan oleh dominasi ilmuwan generasi berikutnya yang memiliki kepentingan atas paradigma ilmu yang baru. Namun demikian, realita yang ada bisa jadi bukan merupakan kondisi ideal yang dimungkinkan. Eksplanasi Kuhn memang dapat lebih tepat menggambarkan menggambarkan fenomena ilmu pengetahuan yang ada, namun falsifikasi Popper tetap menjadi standar emas yang seharusnya dipegang oleh setiap ilmuwan.

Kesimpulan Kesimpulan makalah ini adalah bahwa ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia terdiri dari serangkaian eksplanasi provisional yang bersifat sementara. Oleh karena itu, proses pembuktian kebenaran suatu eksplanasi ilmiah merupakan sebuah proses berkelanjutan tanpa akhir karena realita senantiasa berubah dan ilmuwan seharusnya juga senantiasa berusaha mendapatkan kebenaran yang terkini. Jika suatu eksplanasi ilmiah diterima begitu saja tanpa proses pembuktian yang berkelanjutan, maka dapat dikatakan bahwa teori tersebut sudah berubah menjadi dogma ilmiah yang diyakini kebenarannya tanpa perlu pembuktian apa-apa.

Referensi 1. Fuller, S. (2003). KUHN VS POPPER: The Struggle for the Soul of Science. Duxford, Cambridge: Icon Books Ltd. 2. Kuhn. T. S. (1970). International Encyclopedia of Unified Science Vol. 2 No. 2: The Structure of Scientific Revolutions. Chicago: The University of Chicago Press, Ltd. 3. Okasha, S. (2002). Philosophy of Science: A Very Short Introduction. Great Clarendon Street, Oxford: Oxford University Press. 4. Popper, K. (2002). The Logic of Scientific Discovery (English Translation). New Fetter Lane, London: Routledge Classics. 5. Percivel, P. (1989). Indices of Truth and Temporal Propositions. The Philosophical Quarterly, 39(155): 190-199. Diunduh 2 Desember 2008 dari JSTOR (www.jstor.org)

 

About these ads