Mengenai Teori dan Penelitian


Proses Penelitian dan Beberapa Masalah yang berhubungan dengan Penelitian

Mengenai Teori dan Penelitian

Istilah teori sering dipakai secara populer sebagai spekulasi yang tidak selalu berhubungan dengan kenyataan sehari-hari. Kita semua mengenal istilah “itu hanya teori saja, praktek lain lagi”.

Adalah suatu kenyataan bahwa dahulu teori yang berhubungan dengan ilmu sosial tidak selalu didukung oleh data empiris, tetapi akhir-akhir ini, penelitian dan teori erat berhubungan meskipun teori dapat mengandung data-data spekulatif yang kebenarannya belum tentu dapat dibuktikan.

Tujuan teori adalah jelas, yaitu secara generalisasi mempersoalkan pengetahuan dan menjelaskan hubungan antara suatu gejala sosial dan arti dari observasi yang telah dilakukan. Lagi pula teori juga bertujuan untuk meramalkan fungsi dari gejala-gejala yang diobservasikan itu berdasarkan pengetahuan-pengetahun yang secara generalisasi telah di persoalkan oleh teori. Untuk memberikan gambaran secara konkret tentang arti dari teori seperti yang telah dijelaskan di atas ini, maka kita dapat bertitik tolak dari suatu gejala sosial seperti berikut:

Seorang pencuri mengambil suatu benda yang oleh rakyat setempat diangggap pusaka dan kemudian menjualnya ke sebuah toko. Tidak lama kemudian daerah tersebut terkena banjir dan malapetaka, yang dihubungkan dengan pencurian benda pusaka, hyang membuat para dewa marah. Pencuri itu kemudian diketahui siapa orangnya, lalu diapun dibunuh oleh rakyat.

Bagaimana harus kita nilai kesimpulan yang ditarik oleh rakyat yang bersangkutan, yaitu menghubungkan banjir dengannpencurian benda pusaka? Yang dilakukan oleh mereka itu adalah sesuatu yang merupakan kemampuan manusia yang bersifat universil, yaitu mengklasifikasikan gejala sosial ke dalam kategori tertentu?

Kalau kita mencoba mencari penjelasan mengenai hubungan antara kedua gejala, maka malapetaka tersebut akan kita sifatkan sebagai sesuatu yang sangat merugikan rakyat setempat dan karena itu sangat menyinggung perasaan mereka.

Terhadap gejala tersebut mereka tidak berkuasa, tetapi dengan adanya pengetahuan mengenai pencurian benda pusaka maka berdasarkan kepercayaan religius mereka, perbuatan sang pencuri telah menimbulkan kemarahan dewa-dewa dengan akibat tadi.

Mereka kemudian membunuh sang pencuri tadi dan dengan demikian mereka mengalirkan frustasi mereka kepada orang lain yang disebut pencuri.

Sudah barang tentu manusia yang rasional pikirannya tidak akan sependapat dengan orang desa tersebut mengenai hubungan antara pencurian benda pusaka dan malapetaka banjir, tetapi hal itu tidak akan dipersoalkan disini. Yang ingin dikemukan ialah bahwa pikiran ilmiah bertujuan untuk mempertalikan gejala-gejala, dan bagi ilmu sosial tentu gejalayang dimaksudkan disini adalah gejala sosial.

Sebaliknya tori juga bisa menjadi pedoman yang dapat mengarahkan suatu penelitian yang empiris dengan menunjukkan fakta macam apa dan hubungan macam apa yang perlu dianalisa agar kita dapat memperkembangkan teori tersebut . Sebab fungsi kemasyrakatan dalam ilmu sosial adalah sangat  penting yang berarti bahwa kita harus berusaha untuk menempatkan pengetahuan kedalam suatu konteks yang sedemkian luas sehingga kita melepaskan diri dari fakta-fakta yang terisolasi yang hanya menarik hati untuk diketahui tetapi tidak mempunyai fungsi  sosial.

Kalau umpamanya  kita mengetahui bahwa pecandu narkotika terutama dapat ditemukan di antara remaja dari kelas sosial atasan, maka hal itu menarik hati untuk diketahui saja. Tentu akan lebih berfaedah kalau kita dpat menjelaskan secara sosiologis hubunganantara pecandu narkotika dan kelas sosial tinggi. Kalau kita berhasil melakukan hal sedemikian, maka kita mungkin juga mampu untuk meramalkan apa yang boleh terjadi kalau suatu gejala sosial berkaitan dengan hal ihwal yang tertentu, dengan pertimbangan bahwa kalau kaitan sedemikian dapat dihindarkan, maka yang tidak diharapkan juga tidak akan timbul.

Sebagai kesimpulan dapat dikemukakan bahwa teori dan peneletian saling membantu: Peneliti-peneliti menguji teori-teori yang telah diperkembangkan dan berdasarkan itu memperluas teori tersebut sehingga akhirnya mengakibatkan penelitian yang baru. Pada lain pihak teori dapat mengarahkan penelitian kepada penelitian yang perlu diadakan untuk memeperdalam pengetahuan teoritis.

Urian di atas dengan sendirinya menimbulkan pertanyaan, jalan apa yang harus ditempuh untuk mengembangkan suatu teori/hipotesa? Seperti telah dikemukakan di atas perbedaan antara teori dan hipotesa hanya merupakan perbedaan derajat saja. Setiap teori yang telah diperkembangkan dapat diuji kembali oleh peneliti lain sehingga dengan demikian teori tersebut kembali bersifat sebagai hipotesa.

Dalam ilmu sosial seorang peneliti jarang sekali mulai dengan “halaman baru”, artinya masalah yang ingin ditelitinya kemungkinan besar telah dipersoalkan pula oleh peneliti lain. Layak sekalilah kalau peneliti baru bersedia dan berusaha memehami apa yang telah diketahui secara ilmiah mengenai masalah tersebut melalui penelitian orang lain. Sudah barang tentu dengan syarat bahwa ia bebas untuk berbeda pendapat dengan kesimpulan-kesimpulan dari peneliti sebelumnya.

Melakukan penelitian-ulangan (replication-research) malahan sangat berfaedah, asalkan saja peneliti mendasarkan diri pada sampel lain (dari populasi yang sama). Suatu perubahan dari masalah oprasionil dapat meningkatkan relevansi penelitian-ulangan sedemikian.

Peneliti eksploratif bertujuan memperkembangkan hipotesa-hipotesa yang secara tegas harus dibedakan dari penelitian uji. Juga kalau terdapat tumpang tindih dengan penelitian uji, maka selalu menjadi syarat mutlak untuk membedakan kedua bagian dari penelitian sedemikian. Dalam penelitian eksploratif peneliti mencoba menemukan hubungan antara gejala-gejala sosial. Di sini juga peneliti jarang sekali mencari hubungan “ins Blaue hinein” sebab ia biasanya telah membanyangkan hipotesa-hipotesa sewaktu mengadakan penelitian eksploratif (lihat bab mengenai “tipe-tipe penelitian”). Hal ini juga tebukti dengan kebiasaan bahwa peneliti memilih secara selektif variabel-variabel apa saja yang akan diukur dan dihubungkan secara korelatif.

Dalam rangka penelitian eksploratif seorang peneliti dapat menempuh jalan yang berbeda-beda dalam menemukan hipotesa-hipotesa. Ia dapat dibimbing oleh teori yang telah ada; kemudian berdasarkan pedoman itu mencari hipotesa-hipotesa; atau ia dapat mendasarkan diri semata-mata atas data-data yang dikumpulkan dan berusaha menemukan hubungan-hubungan tertentu dalam data-data tersebut. Untuk tujuan ini data-data yang dikumpulkan diolah melalui suatu sistem klasifikasi atau sistem skala (pada data kwalitatif) atau melalui pengolahan statistis (pada data kwantitatif) dengan perhitungan korelasi, regresi, multi-variate analisys dan sebagainya.

Penelitian ulangan dan penelitian eksploratif tidak merupakan jalan tunggal untuk memperkembangkan hipotesa baru. Mempelajari perpustakaan yang secara langsung atau tidak langsung berhubungan dengan masalah yang ingin dipelajari tidak boleh diabaikan. Lebih-lebih kalau perpustakaan sedemikian berhubungan dengan penelitian empiris. Hasil penelitian pada umumnya jauh lebih befaedah untuk dipelajari dari pada hasil penelitian perpustakaan yang hanya memberi pandangan-pandangan kritis-teoritis saja sementara mengabaikan dasar empiris. Argumentasi ini tentulah tidak berlaku seandainya hasil penelitian perpustakaan sedemikian memberi jalan keluar ke arah perkembangan hipotesa-hipotesa baru. Suatu cara lain untuk mempeerkembangkan hipotesa-hipotesa adalah melalui “verstehen”. Dalam mempelajari gejala-gejala budaya kita dapat memperoleh pengertian mengenai arti dan hubungan gejala-gejala sedemikian dan adakalanya cara kerja ini dapat memberikan hasil yang berarti.

1.2 PENDEKATAN KWALITATIF ATAU KWWANTITATIF?

Sering kali sosiologi dan sntropologi dihubungkan dengan pendekatan kwantitatif dan kwalitatif; uraian sedemikian pada hakekatnya terlalu simplistis.

Perbedaan yang ada di antara kedua ilmu sosial itu harus kita tinjau pula dari perbedaan latar belakang historis yang bertanggung jawab atas perkembanan antropologi dan sosiologi dan berkaitan dengan itu atas penggunaan pendekatan yang berbeda-beda.

Sebelum kita mempersoalkan perbedaan tersebut, adalah berfaedah untuk menegaskan bahwa perbedaan di antara kedua ilmu sosial tersebut, makin lama makin akan lenyap karena alasan-alasan yang akan dipersoalkan di bawah ini.

Di bawah ini akan dipersoalkan perbedaan pendekatan antara sosiologi dan antropologi yang tradisionil dan untuk tujuan analitis saja maka perbedaan pendekatan dengan sengaja akan dilakukan secara hitam putih. Pendekatan antropologis di sini terutama akan ditinjau dari sudut kaca mata para strukturalis dalam antropologi yang terkenal oleh hasrat untuk menilai segala sesuatu dalam hubungan klasifikasi!

Berdasarkan titik tolak tersebut di atas ini, maka kalau kita mempelajari umumnya dapat ditarik kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut: Antropologi terutama memusatkan perhatian pada usaha mendeskripsikan, menginventarisasikan dan mengklasifikasikan masyarakat-masyarakat yang agak arkhais sifatnya dalam bentuk monografi.

Dengan masyarakat “yang arkhais sifatnya” saya maksudkan masyarakat yang merupakan sistem tertutup (closed system) yang agak terisolir, di mana pertalian tatap muka (face to face relation) adalah umum dan peranan sosial adalah sederhana; demikian pula pola interaksi, yang pada umumnya ditemukan dalam kelompok pedesaan tradisionil.

Dalam rangka mempelajari masyarakat tradisionil tersebut maka sang antropolog terutam tertarik akan mempelajari sistem sosialnya dan dalam rangka ini ia lebih tertarik pada aturan-aturan kelakuan (the rules of behaviour) berdasarkan suatu pola ideal (ideal pattern) yang ingin di rekonstruksinya kembali.

Dengan kata lain sang antropolog tidak segan untuk mengabaikan realitas sehari-hari dan pola kelakuan yang sesungguhnya dalam usaha mentrasir kembali sistem sosial (social system) “like it should be”.

Pendekatan yang sedemikian pada umumnya menitikberatkan pada apa yang dinamakan respect of cultural context.

Telah menjadi jelas bahwa karena lapangan kerja dari para antropolog adalah terutama dalam masyarakat yang arkhais, maka kemungkinan untuk mengikutsertakan  di dalam analisa sejumlah besar aspek dari kultur, adalah yang lebih mudah pula. Metode yang mengikutsertakan didalam analisa sebanyak mungkin faktor bahkn semua aspek dari masyarakat, sering disifatkan sebagai pendekatan holistik. Hal itu membawa kita kepada kritik dari Karl Popper yang mengemukakan bahwa kalau holisme diartikan sebagai totalitas dari semua sifat atau aspek dari suatu dan semua hubungan antara masing-masing bagian (constituent parts), maka studi demikian pada hakikatnya adalah suatu ilusi, yaitu mustahil dilaksanakan.

Karl Poper dalam hal ini mengartikan “whole” dalam rangka holisme sebagai suatu struktur berdasarkan sifat-sifat khas atau aspek-aspek dari sesuatu  (dibandingkan dengan kebalikan dari struktur yaitu “a mere heap”).

Saya menganggap perlu bahwa kalau kita menilai holisme, maka kita juga mendasarkan diri pada suatu pendekatan yang menafsirkan suatu whole sebagai suatu struktur. Dan hal ini akan saya lakukan juga disini. Para antropolog demikian yang menamakan diri strukturalis dalam rangka mempelajari sistem sosial dari suatu masyarakat, pada hakekatnya terutama tertarik pada pengkajian prinsip-prinsip pembentuk struktur (structuring principles) yang menentukan sistem sosial tersebut.

Para antopolog tersebut ingin mengetahui gestalt atau konfigurasi yaitu susunan dari suatu masyarakat.

Kemudian konfigurasi tersebut ditentukan oleh prinsip-prinsip pembentuk struktur (stucturing principles) yang menjadi hakekat dari masyarakat-masyarakat aekhais tersebut.

Dalam hal ini perlulah ditegaskan bahwa suatu masyarakat tidak dapat disifatkan oleh suatu stuktur aja, tetapi oleh beberapa struktur dengan catatan bahwa setiap struktur disifatkan oleh suatu konfigurasi khusus, dimana prinsip-prinsip pembentuk struktur tertentu berlaku! Levi-Strauss antropolog prancis yang terkenal, dalam hal ini memakai istilah “the order of orders”.

Kalau sekarang kita mempelajari dan kemudian menilai hasil pekerjaan dari para antropolog, maka menarik perhatian bahwa mereka pada umumnya hanya menganalisa the order of the other orders.

Dengan ini saya maksudkan bahwa dalam rangka mencari prinsip-prinsip pembentuk struktur yang menentukan sistem sosialnya, maka mereka hampir selalu membataskan diri pada analisa dari sistem-sistem perkawinan dan garis-garis keturunan, jadi dari satu order saja. Hal ini memang juga konsekwensi dari perhatian antropolog-antropolog tersebut yang terutama tertarik pada pengkajian mempelajari masyarakat-masyarakat yang arkhais, tempat hal ihwal sedemikian adalah justru dominan, walaupun tentu tidak dapat ditarik kesimpulan bahwa kedua gejala tersebut (sistem pekawinan dan garis keturunan) merupakan satu-satunya order saja.

Hal itu penting diketahui, tetapi kita harus sadar pula bahwa hal itu belum berarti bahwa mereka telah menganalisa sistem sosial dalam keseluruhannya. “the other orders” masih menunggu dianalisa.

Di atas ini kita  telah menghubungkan satu pendekatan dalam ilmu antropologi, yaitu yang dinamakan holisme, dengan usaha untuk mencari structuring principles dalam masyarakat-masyarakat yang arkhais sifatnya dan kita telah menilai pula hasil pekerjaan dari para antropolog sebagai hanya mampu menemukan prinsip-prinsip pembentuk struktur tesebut pada satu konfigurasi yaitu suatu struktur saja sedang the order of the other orders jarang atau tidak ditangani oleh mereka.

Sekarang saya akan mempersoalkan teknik-teknik peneletian yang pada umumnya dipakai oleh antropolog dalam rangka menemukan suatu konfigurasi tertentu.

Teknik yang paling klasik dipakai adalah observasi dan partisipasi atau gabungan dari kedua metode, lagi pula wawancara (interview) bebas. Di dalam bab yang mempersoalkan teknik-teknik tersebut akan dipersoalkan kekuatan dan kelemahan dari teknik yang besangkutan tetapi di sini sudah dapat dikemukakan bahwa selektivitas dalam persepsi yang tidak direncanakan, salah tafsiran dari perbuatan para aktor, over-involvement dalam kultur yang dipelajari, mengklasifikasikan data dan sebagainya merupakan kelemahan dari teknik tersebut yang sekaligus pula merupakan pembatasan dalam memakainya.

Yang menarik perhatian kita ialah bahwa teknik-teknik yang berkecendrungan menemukan suatu struktur seperti studi-studi mengenai korelasi, studi-studi mengenai sosiometri dan multi-faktor analysis pada umumnya diabaikan oleh para antropolog. Suatu penelitian yang bertujuanuntuk mencari korelasi antara gejala-gejala sosial mungkin akan ditolak oleh para stukturalis dengan alasan (yang tepat) bahwa dengan mengetahui hubungan korelatif kita belum memperoleh pemahaman (insight) dalam prinsip-prinsip pembentuk stuktur yang hendak diketahui.

Perlu dicatat bahwa penelitian mengenai koelasi juga tidak bertujuan demikian, akan tetapi dengan mengetahui hubungan-hubungan korelatif kita dapat maju satu langkah ke arah mencari prinsip-prinsip yang mungkin strukturalis untuk menemukan hubungan-hubungan yang tidak akan diketahui melalui teknik-teknik klasik yang telah dipesoalkan. Saya tidak berpretensi untuk mengemukakan bahwa penerapan teknik-teknik yang terakhir akan mengakibatkan bahwa peneliti langsung akan berteriak “heureka”, melainkan ada kemungkinan bahwa pada jalan yang menuju ke arah mencari t hubungan-hubungan yang tidak akan diketahui melalui teknik-teknik klasik yang telah dipesoalkan. Saya tidak berpretensi untuk mengemukakan bahwa penerapan teknik-teknik yang terakhir akan mengakibatkan bahwa peneliti langsung akan berteriak “heureka”, melainkan ada kemungkinan bahwa pada jalan yang menuju ke arah mencari the order of the other orders teknik-teknik modern yang saya maksudkan ini bisa dinilai sebagai alat pembantu yang penting.

Sampai sekarang saya hanya mempersoalkan cara kerja yang tradisional dari para antropologi/strukturalis yaitu menemukan suatu konfigurasi dan prinsip-prinsip pembentuk struktur yang membimbing konfigurasi tersebut.

Gambaran yang jauh lebih negatif harus diberikan kalau sekarang saya menyoroti cara kerja dari par a antropolog yang tredisionil yang dengan teknik klasik yang telah dipersoalkan ingin menganalisa suatu masyarakat yang tradisionil dan a fortiori suatu masyarakat yang kompleks dengan tujuan untuk memberi generalisasi mengenai kelakuan dan perbuatan dari para anggota masyarakat pada umumya.

Kalau pada pendekatan yang pertama pada tujuan pertama adalah untuk merekonstruksikan suatu pola ideal, yaitu menganalisa suatu masyarakat “how it should be” yaitu pola sebenarnya.

Jelaslah bahwa problema-problema yang berhubungan dengan representativity, reliabity, dan validity yang harus diatasi, tidak dapat ditangani melalui teknik-teknik yang klasik seperti observasi, partisipasi dan wawancara bebas.

Jelaslah bahwa data-data yang dikumpulkan dan generalisasi-generalisasi yang dikemumakan, apa lagi hipotesa-hipotesa yang berdasrakan pendekatan sedemikian telah diuji, memang tidak didasarkan atas suatu usaha yang tegas bagi verifikasi yang obyektif dan apa yang dihasilkan oleh mereka secara optimal hanya dapat disifatkan sebagai “intelligent guess work” (perkiraan yang cerdas), yang hanya akan menghasilkan suatu hipotesa yang mungkin cukup relevan untuk diuji.

Sekarang akan dipersoalkan cara kerja dn hasil penelitian dari para sosiolog. Kentaan bahwa masyarakat-masyarakat yang arkhais dan terisolir makin lama makin lenyap dari bumi ini dan makin lama makin berubah menjadi masyarakat yang lebih kompleks mempunyai akibat pula terhadap cara kerja yan tradisionil dari para sntropolog. Artinya makin menjadi mustahil untuk mempelajari masyarakat-masyarakat tersebut sebagai sistem-sistem tertutup. Peranan sosial di dalam masyatakat yang sedang berubah menjadi lebih kompleks, demikian pula pola-pola interaksi. Kalau kita dalam masyarakat yang kompleks tersebut masih mencari prinsip-prinsip pembentuk struktur yang berhubungan dengan totalitas dari masyarkat-kompleks itu, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kompleksitas dari masyarakat sedemikian telah mengakibatkan bertambahnya “the other order” dan bahwa hanya di dalam suatu super-structur kitadapat menemukan prinsip-prinsip pembentuk struktur melalui hukum, undang-undang dan idiologi negara.

Dengan kata lain pendekatan holistik tidak berarti lagi, dan selayaknya para peneliti sosial memusatkan perhatian pada pencaharian prinsip-prinsip pembentuk struktur dari bagian-bagian suatu masyarakat. Akan tetapi para strukturalis dalam hal yang sedemikian selalu pula di konfrontasikan dengan kompleksitas dari masyarakat tersebut yang menuntut suatu pendekatan yang memakai tekniki-teknik penelitian yang lebih sophistcated di samping pemakaian teknik-teknik penelitian yang tradisionil dipakai.

Hal-hal itu lebih-lebih berlaku kalau kita mengadakan problem-oriented research dan kita ingin menarik kesimpulan yang berdasarkan generalisasi untuk menyifatkan proses interaksi dan komunikasi dari bagian-bagian masyarakat tersebut. Orientasi-sosiologis yang baru ini sering menimbulkan stereotype dari para antropolog, penganut pendekatan yang holistis. Mereka menyifatkan pendekatan dari para sosiolog sebagai fragmentaris yang mengabaikan konteks kebudayaan (cultural context)sama sekali: akibatnya pendekatan yang sedemikian, menurut mereka, menimbulkan keraguan validitas dari kesimpulan yang ditarik. Para sosiologdengan tepat akan menjawab bahwa pendekatan holistis dalam mencari prinsip-prinsip pembentuk struktur di dalam suatu masyarakat yang kompleks dengan teknik-teknik penelitian yang klasik seperti observasi, partisipasi dan wawancara bebas melanggar dasar-dasar ilmiah sepanjang ada hubungan dengan representatiitas dan reability.

Telah menjadi jelas bahwa hanya kalau kita bekerja di dalam masyarakat yang arkhais sifatnya dan terisolir dengan tujuan mempelajari “the social system as it should be”, maka pendekatan holistis dengan memakai teknik-teknik yang klasik ada artinya. Sebaliknya (bahkan di dalam masyarakat yang arkhais tersebut) kalau kita secara generalisasi mau menyifatkan masyarakat tersebut, maka kita harus menangani maslah-masalah seperti represetativitas dan sebagainya.

Hal itu lebih-lebih berlku kalau kita meneliti masyarakat yang kompleks, sebab kompleksifitas mempunyai fungsi terhadap pola-pola interaksi dan komunikasi dengan akibatnya suatu heterogenitas yang menuntut penerapan teknik-teknik penelitian yang mampu untuk menangani problema-problema yang sedemikian.

Kalaua masyarakat yang kompleks yang kita ingin meneliti terdiri dari sejumlah besar penduduk, maka jelas pula bahwa kita akan memanfaatkan kemajuan-kemajuan dan pemahaman yang telah tercapai oleh statistik yang induktif dan metode sampling yang memberi kesempatan kepada kita untuk menarik kesimpulan yang berlaku bagi populasi yang diteliti melalui suatu bagian dari populasi saja, yaitu suatu sample yang mewakili populasi tersebut.

Teknik-teknik penelitian yang klasik yang dipakai sejak lahirnya ilmu antropologi tetap akan memainkan peranan yang penting di samping teknik-teknik seperti observasi penelitian yang lain. Adalah jelas bahwa teknik-teknik yang intensif seperi observasi, parisipasi dan wawancara bebas mengandung aspek-aspek metodelogis yang cukup sulit sehingga secara optimal kita hanya dapat mengharapkan diperkembangan sejumlah hipotesa saja.

Menguji hipotesa-hipotesa melalui teknik-teknik tersebut karena alasan yang dikemukakan tadi memang menjadi mustahil: selektivitas dalam persepsi yang tidak disadari (unintentional selectivity in perception), menilai suatu kejadian yang pada hakekatnya adalah idiosinkratis sebagai kejadian biasa yang umum, merupakan kelemahan dari teknik observasi. Demikian juga dengan teknik partisipasi yang tidak dapat direncanakan, dan timbulnya pula problem moral dan cultur blindness kalau kita berpartipasi secara intensif.

Dalam wawancara terbuka (free interview) kita belum bertemu dengan masalah yang berhubungan dengan tingkat reability yang rendah dan persoalan pengolahan data yang cukup merepotkan. Klasifikasi data harus dilakukan melalui content analisys. Proses ini sulit dan memakan banyak waktu.

Karena teknik-teknik di atas telah menjadi teknik pokok dalam pendekatan antropologi. Maka jelas dalam pendekatan yang demikian kita akan menghadapi persoalan-persoalan yang berhubungan baik dengan reability maupun validity dari hasil penelitian.

Untuk memecahkan persoalan reliability dan validity ini, perlu kiranya pendekatan antropologi dilengkapi dengan teknik-teknik yang lebih kwantitatif sifatnya, agar dengan demikian sifat representatif dari penelitian dapat dijamin. Sementaraa itu, kita juga harus waspada terhadap kelemahan dari pendekatan sosiologi, karena studi-studi yang kompleks memang sukar dilaksanakan hanya melalui teknik yang ekstensif, karena dimensi-dimensi yang relevan dari tingkah laku manusia tidak dapat dilukiskan hanya dengan jawaban-jawaban atas pertanyaan yang diajukan melalui wawancara berstruktur.

Di sini berarti diperlukan pula tambahan yang justru bersifat lebih intensif. Kembali lagi pada pokok masalah “kwalitatif atau kwantitatif” jawaban adalah: hanya untuk pendekatan holistis dalam rangka mencari prinsip-prinsip pembentuk struktur dalam masyarakat yang arkhais, mungkin pendekatan kwalitatif bisa dipakai, tetapi untuk semua studi baik strukturil maupun tidak, dalam masyarakat arkhais dan kompleks yang bertujuan mengadakan generalisasi atau menguji hipotesa, maka pendekatan yang tepat adalah kwalitatif dan kwantitatif.

A                                                                                                                     B

Masyarakat arkhais                                                                                   Masyarakat kompleks

Masalah:                                                                                                    Masalah:

  1. Prinsip-prinsip pembentuk struktur                                                     1. Generalisasi
  2. Memperkembangkan hipotesa                                                            2. Menguji hipotesa
  3. Menguji hipotesa
  4. Generalisasi.

Pendekatan:

A.1.= kwalitatif (tanpa keberatan metodologis)                                 B.1.= kwantitatif + kwalitatif

2.= kwalitatif (tanpa keberatan metodologis)                                     2 = kwantitatif + kwalitatif

3.= kwantitatif + kwalitatif

4.= kwantitatif + kwalitatif

1.3 KESIMPULAN ILMIAH ATAU PSICHOLOGISME?

Masalah verstehen (Einfuehlung, empathy, introspection, inleven)

Seorang mahasiswa yang diuji oleh suatu panitia penguji pada salah satu universitas mengemukakan bahwa kesimpulan-kesimpulan yang ditariik sebagai hasil penelitian harus disifatkan sebagai hipotesa-hiotesa yang tidak sempat/belum menguji kebenarannya dan ia membenarkan hal tersebut dengan mengemukakan bahwa penelitiannya masih eksploratifnya.

Alasan yang sangat tepat dari mahasiswa yang bersangkutan kemudian ditolak oleh salah seorang penguji yang menyifatkan pendirian mahasiswa tersebut sebagai “lack of self-confidence”, kurang percaya pada di sendiri. Peristiwa ini membawa kita kepada masalah “verstehen” atau lebih tepat lagi kepada masalah metodologi ilmiah.

Latar belakang  adalah kurang lebih sebagai berikut: ilmu empiris seperti sosiologi, ilmu politik dan komunikasi, antropologi dan krimonologi. Pokoknya ilmu-ilmu yang mempelajari kelakuan manusia, bertujuan untuk memperdalam dan menambah pengetahuan mengenai realitas sosial.

Hal ini dengan sendirinya berarti bahwa pengetahuan sedemikian tidak akan terbatas dan secara konkrit senantiasa harus diuji pada teori-teori yang telah diperkembangkan. Hal ini berarti pula bahwa pengetahuan yang dirumuskan dalam teori-teori senantiasa berubah, artinya teori juga selalu berubah.

Ilmu pengetahuan, dalam suatu klasifikasi yang kuno, dibagi dalam dua kategori yaitu: kategori A (alfa) dan B (beta) dan ilmu empiris tersebut di tempatkan pada kategori pertama.

Ahli filsafat jerman Dilthey dan Windelband pada akhir abad yang lalu mempersoalkan perbedaan antara apa yang mereka namakan ilmu indiografis dan ilmu nomotetis. Perbedaan tesebut sama dengan apa yang di atas dinamakan ilmu alfa dan beta.

Menurut kedua sarjana tersebut ada perbedaan, bahkan pertentangan, antara kedua ilmu

Itu karena ilmu nomotetis (beta) berhubungan dengan pengkajian alam (Naturwissenchaft, natural science), yang berarti berhubungan dengan gejala-gejala yang setiap kali berulang dan karena itu mengijinkan menciptakan hukum.

Sebaliknya ilmu yang bersifat idiogradis (ilmu alfa) berhubungan dengan gejala-gejala yang mereka sifatkan sebagai “unik”, tidak berulang. Dalam ilmu-ilmu alfa gejala-gejala yang unik dalam pandangan kedua sarjana tersebut adalah hal-hal seperti umpamanya: perang dunia kedua, reolusi industri di inggriss, negarawan Nehru dan sebagainya.

Berdasarkan klrasifikasi tersebut dan sebagai konsekwensinya dikemukakan bahwa ilmu idiografis dan nomotetis berbeda pula dalam metodologi yang dipakai dalam ilmu nomotetis tidak dapat dipakai bagi ilmu idiografis. Dan sebagai lanjutan dari uraian tersebut dikatakan bahwa ilmu idiografis harus memperkembangkanmetodologi tersendiri dan salah satu unsur yang paling penting dari metodologi ini adalah apa yang dinamakan “verstehen”.

Perlu dikemukakan bahwa keunikan (uniqueness, einmaligkeit), dari ilmu-ilmu budaya seolah-olah menuntut satu metodologi khusus adalah tidak tepat sama sekali, sebab hampir semua obyek pada hakekatnya mempunyai unsur-unsur yang unik maupun yang tidak unik. Masalah unsur-

Kalau kita mengatakan bahwa negarawan Nehru meletakkan landasan bagi politik luar negri india maka dengan sendirinya kita maksudkan bahwa kita mempersoalkan politik luar negri india yang dibandingkan dalam waktu yaitu pada waktu Nehru menciptakan politik luar negrinya sampai sekarang. Kalau kitamempersoalkan negarwan Nehru, maka kita memakai kategori “negarawan” yang menuntut satu definisi tertentu dan perbandingan sifat-sifat khas dari Nehru dengan isi definisi tersebut. Hal itu berarti pula bahw kita menempatkan Nehru dalam suatu konteks yang lebih luas. Bukan saja perbandingan dengan gejala-gejala lain yang dilingkupi oleh kategori tersebut melainkan pula perbandingan yang berhubungan dengan gejala khusus yang dipersoalkan (dan seperti telah berkembang dalam waktu) yang berarti bahwa ada kemungkinan untuk mentrasir sifat-sifat yang setiap kali berulang. Hal sedemikian dengan sendirinya mengijinkan satu generalisasi. Sudah barang tentu dapat dikemukakan alasanlain lagi yang melemahkan alasan mengenal “unik” tersebut.

Jelaslah bahwa klasifikasi kuno dalam ilmu alfa dan beta tdak dapat dipakai untuk ilmu-ilmu sosial/empiris seperti telah kita sebutkan di atas ini. Adalah pada tempatnya untuk menyifatkan ilmu sosial tersebut sebagai ilmu C (gamma) baik dalam hubungannya dengan obyek maupun dengan metode, dengan keistimewaan bahwa apa yang semula dianggap sebagai sifat-sifat khas dari ilmu alfa dan beta, dapat ditemukan dalam ilmu gamma, adakalanya dalam kaitan yang sangat erat.

Juga Rickert (1926) dalam membandingkan ilmu kultur dan ilmu alam  (kulturwissenchaft dan naturwissenshaft) menegaskan bahwa perbesaan antara ilmu idiografis dan nomotetis adalah sangat relatif dan hanya bagi tujuan yang analitis sifatnya ia bertitik tolak dari kedua pola yang ekstrim.

“Verstehen” yang dipersoalkan dalam paragraf ini berhubungan dengan “ilham”, yaitu melalui ilham gejala-gejala sosial dan kulturil dinilai dan ditafsirkan dan kemudian ditarik kesimpulan.

Metode “verstehen” mendapat dorongan besar dari suatu aliran dalam psikologi yang terkenal sebagai “fenomenologi”. Metode ini muncul sebagai reaksi antara lain terhadap noe-positivisme yang oleh penganut “verstehende metode” dinilai terlalu banyak mengabstraksikan dari realitas sosial sehingga “hakekat” gejala-gejala sosial makin lenyap. Aliran ini (verstehen) kaya sekali dalam memberikan tafsiran yang luas dalam kelakuan manusia,akan tetapi gagal dalam mencari kesismpulan secara metodologis. Dalam antropologi budaya terutama terkanal almarhumMargaret Mead yang melalui suatu pendekatan yang dinamakn “symbolic interactinism” juga memakai metode “verstehen”. Pendekatan holistis melalui teknik observasi-partisipasi merupakan pendekatan utama dalam aliran ini.Kalau kita mengingat bahwa justru “abstraksi”, yaitu mengabstraksikan dari perasaan, sikap dan pendirian manusia serta latar belakang historisnya menjadi keberatan utama dari para penganut aliran  “symbolic interactinism” maka timbul pertanyaan bagaimana teknik observasi-partisifasi dapat dilaksanakan dengan tepat tanpa mengabstraksikan dari realitas?

Teknik observasi-partisipasi baru dapat dilaksanakn dengan validitas yang tinggi kalau justru diadakan kwantifikasi dan klasifikasi, dan ini berarti bahwa harus mengabstraksikan dari realitas! Max Weber (1968) yang juga memakai “verstehen metode” akan tetapi, dengan tegas mengemukakan bahwa memahami (melalui verstehen) hubungan antara gejala-gejala sosial harus selalu dikendalikan/diuji melalui metode-metode dari analisa-analisa kausa. Baru setelah itu validitas dapat dijamin.

Kalau kita sekarang mempersoalkan “verstehen” yang bagi penganut tertentu disifatkan sebagai suatu metode yang   melalui pengertian/ilham (intuition, empathy, einjuehlung dan sebainya) memungkinkan untuk memahami kelakuan sosial, maka perlu ditegaskan bahwa pandangan sedemikian harus ditolak dengan tegas…kalau pendekatan “metodelogis” sedemikian diterima sebagai alternatif bagi metodologi ilmiah.

Verstehen yaitu teknik yang didasarkan atas ilham tidak memberi kemungkinan pengujian validity. Hal itu tidak berarti bahwa kita harus menolak “verstehen” sebagai suatu alat pembantu ilmiah. Sebaliknya ! verstehen dapaat dinilai sebagai suatu kemungkinan untuk memperkembangkan hipotesa-hipotesa. Berdasarkan apa yang dinamakan “soziologische einfuehlung” maka peneliti dapat mentrasir/mengemukakan suatu “hubungan”diantara gejala-gejala sosial yang kemudian diuji dan sebagai hasil ujian diterima atau ditolak. Dengan lain kata: “verstehen” adalah permulaan dari suatu penelitian yang menghaslkan hipotesa-hiotesa yang menarik, yaitu tahap eksploratifdari suatu penelitian. Jika dipakai sedemikian, maka “verstehen” juga merupakan suatu metode yang cukup sulit, terutama karena faktor-faktor “sosiosentrisme”, yaitu mengartikan kelakuan manusia berdasarkan norma-norma dari peneliti,yang sering kal sangat berbeda daripada norma-norma yang berlaku di dalam kultur/subkultur yang diteliti! Konsekwensinya adalah bahwa metode “verstehen” baru dapat dipakai dalam arti “memperkembangkan hipotesa”, kalau peneliti telah mempunyai suatu pengertian yang mendalam mengenai norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku bagi kelompok yang dipelajarinya!

Ilmu sosiologi dan psikologi atrinya ilmu empiris pada umumnya memang berhutang budi pada “verstehende metode” terutama dalam ramgka memperkembangkan teori. Tetapi kalau metode tersebut hendak  “ditempatkan” maka letaknya adalah pada tahap eksploratif.

Memakai suatu contoh yang menarik, yaitu penelitian psikoanalitis dari Sigmund Freud, maka tidak dapat disangkal bahwa jasa dari Freud dalam rangka memakai “verstehende metode” sangatlah besar’

Kesukaran yang berhubungan dengan pretensi dari Freud ialah bahwa ia menilai metode psikoanalisa dan teori yang diperkembangkan.

Iklan

One thought on “Mengenai Teori dan Penelitian”

  1. Pluralisme bangsa tidak boleh dimaknai sebagi simbol, akan tetapi pluralisme bangsa harus dijadikan sebagai satu pertalian sejati yang diikat oleh ikatan-ikatan keadaban yang dibingkai dalam bhinneka tunggal ika. kalau pluralisme diletakkan pada simbol maka konflik horisontal tetap tumbuh berkembang.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s